5/25/2013


Moerdiono
Moerdiono merupakan mantan Menteri Sekretaris Negara era Soeharto pada tiga periode, Kabinet Pembangunan IV (19 Maret 1983 - 22 Maret 1988) Kabinet Pembangunan V (23 Maret 1988 - 17 Maret 1993) dan Kabinet Pembangunan VI (17 Maret 1993 - 14 Maret 1998).

Awalnya, lulusan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Malang (1957) dan Lembaga Administrasi Negara (1967) ini mulai berkarir pada masa Orde Baru. Kemudian dilanjutkan di Lembaga Administrasi Negara (LAN), Jakarta, (1967) dan Wajib Militer, dan terakhir berpangkat Mayor Jenderal. Dia memulai karier menjadi staf Sekretaris Negara (1966) dan kemudian menjadi Asisten Menteri Sekretaris Negara Urusan Khusus (1972) lalu menjadi Sekretaris Kabinet (1981-1983).

Selama Presiden Soeharto memerintah Indonesia, masyarakat mengenal beberapa nama wakil presiden, mulai dari Adam Malik, Umar Wirahadikusumah, Sudharmono, Try Sutrisno, hingga Bacharuddin Jusuf Habibie. Jika Soeharto dikenal sebagai RI I, maka sebutan bagi para wakil presiden itu adalah RI-2.

Ternyata, ada tokoh lainnya dalam pemerintahan Soeharto yang mendapat julukan atau panggilan lebih tinggi dari RI-2, yakni "RI Satu Setengah". Siapakah dia? Orang itu tidak lain adalah pria kelahiran Banyuwangi, 19 Agustus 1934 yang selama puluhan tahun mengikuti jejak Soeharto, yakni Moerdiono.

Purnawirawan jenderal itu mengikuti Soeharto sejak sekitar tahun 1965, sehingga Moerdiono menjadi orang kepercayaan Soeharto. Bahkan, ia pula yang pertama kali memfotokopi naskah asli Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), yang kemudian menandai perpindahan kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada Soeharto.

Mantan Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), yang juga merupakan bekas Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Polkam), Laksamana Purnawirawan Soedomo, hari Sabtu pagi di Jakarta mengungkapkan hal yang amat menarik dan patut direnungkan oleh banyak orang.

"Jika saya mau ketemu Pak Harto, maka harus lewat Moerdiono," kata Soedomo, yang pernah memimpin Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Sementara itu, mantan Menteri Perumahan Rakyat (Menpera), Cosmas Batubara, yang pernah menjadi Menteri Tenaga Kerja (Menaker) juga mengungkapkan data yang menarik.

Ketika pemerintah akan mengeluarkan peraturan mengenai Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), maka terdapat perbedaan sikap antara Cosmas dengan Menteri Keuangan kala itu, JB Sumarlin.

"Pak Moerdiono kemudian menjadi penengah atau mediator," kata Cosmas, yang suka bermain tenis seperti halnya Moerdiono. Cosman pun mengakui, akhirnya perbedaan pandangan itu bisa dipertemukan.

Bahkan, Soedomo mengatakan bahwa Moerdiono adalah pembuat pidato yang handal bagi Soeharto. Berbagai pidato harus disiapkan Sekretariat Negara, baik yang "ringan maupun berat ", seperti pidato pengantar Rencana Anggatan Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) yang harus disampaikan presiden kepada DPR menjelang tahun anggaran yang baru.

Jika sekarang tahun anggaran berlaku mulai 1 Januari hingga 31 Desember, maka dahulu dimulai 1 April hingga 31 Maret tahun berikutnya.

Moerdiono juga harus mendampingi Soeharto jika menerima tamu-tamu asing, seperti kepala negara atau kepala pemerintahan mulai dari presiden, raja hingga perdana menteri.

Sementara itu, jika Soeharto akan melakukan perjalanan dinas ke luar negeri, maka Moerdiono menjadi satu-satunya pejabat yang bertanggung jawab untuk menyiapkan perjalanan itu, mulai dari penyewaan pesawat Garuda Indonesia, jadwal perjalanan, jadwal pertemuan hingga siapa saja orang yang boleh ikut dalam bepergian ke luar negeri itu.

Pernah ada kejadian seorang pegawai Sekretariat Negara yang dicoret namanya oleh Moerdiono, ketika Soeharto akan ke luar negeri . Juga ada kejadian, seorang pejabat di lembaga yang sama praktis tidak pernah berani bertemu dengan Moerdiono, jika sedang menyiapkan perjalanan Soeharto ke daerah-daerah. Pasalnya, jika Moerdiono melihat dia, maka akan muncul sikap marah atau omelan dari Moerdiono .

Jika dahulu Moerdiono menjadi satu-satunya "pintu" bagi pengaturan perjalanan Soeharto ke luar negeri, maka pertanyaannya adalah bagaimana pengaturan bagi presiden- presiden setelah Soeharto?

Jika pada era Soeharto itu, praktis tertib dan teratur, maka setelah era itu, ada seorang putri presiden yang bahkan mempunyai "hak" untuk mengatur pertemuan seseorang dengan sang presiden, padahal entah penting atau tidak pertemuan itu.

Sebagai seorang jenderal dan pembantu dekat Soeharto, maka bisa saja muncul kesan bahwa Moerdiono adalah seorang pejabat yang sok pintar atau sok jago, karena mempunyai hak untuk mengatur semua hal yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan 24 jam sang presiden.

Namun, pertanyaannya adalah benarkah Moerdiono itu sombong atau merasa orang paling hebat, jika dijuluki sebagai "Presiden Satu Setengah atau RI 1,5?"

Moerdiono jika ingin memberikan keterangan pers selalu memanggil para wartawan yang sehari-hari meliput acara presiden. Satu kali, dia menaruh perhatian kepada seorang staf Dokumentasi dan Media Massa, Sekneg.

"Sudah berapa tahun kamu di sini," tanyanya. Kemudian Moerdiono terkaget-kaget mendengar jawaban sang pegawai bahwa dia telah bertahun-tahun menjadi karyawan honorer tanpa adanya kepastian kapan diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) tetap.

Tiba-tiba Moerdiono memencet bel yang ada di mejanya, dan sang sekretaris pun datang tergopoh-gopoh, yang kemudian mendapat perintah untuk mengurus administrasi kepegawaian sang honorer tersebut. Hanya dalam waktu beberapa bulan, akhirnya muncul surat keputusan pengangkatan PNS-nya.

HUT ANTARA

Pemerintah memiliki berbagai organisasi yang berada dibawah koordinasi Sekretariat Negara, mulai dari departemen, lembaga pemerintah nondepartemen, seperi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Perencanaan Teknologi (BPPT) hingga Kantor Berita ANTARA.

ANTARA berulang tahun setiap tanggal 13 Desember. Kehadiran Moerdiono selaku Ketua Dewan Pembin ANTARA lantaran jabatannya selaku Mensesneg sangat dinantikan. Satu hari di tahun 1980-an, undangan dari ANTARA telah dikkirim ke Sekneg. Namun, dua minggu menjelang ulang tahun itu belum ada kabar apakah Moerdiono akan datang atau tidak.

Kemudian Ketua Panitia Hari Ulang Tahun (HUT) ANTARA meminta wartawannya yang sehari-hari meliput acara kepresidenan untuk menemui Moerdiono.

Sang wartawan pun menunggu waktu yang tepat untuk menemui Menseseg. Satu hari di halaman Istana Merdeka, sang Ketua Dewan Pembina ANTARA itu pun berhasil ditemui.

"Ada apa?" tanya Moerdiono dengan suara kerasnya, yang kadang-kadang memang menakutkan. 

Sang wartawan ini kemudian menjelaskan bahwa ANTARA yang didirikan Adam Malik, Pandoe Kartawiguna, Sipahoetar dan Soemanang pada 13 Desember 1937 itu akan berulang, dan surat undangan sudah dikirimkan "hanya" melalui seorang kurir.

Mendengar permintaan itu, Moerdion hanya berujar: "Lihat saja nanti". Namun, menjelang perayaan ulang tahun itu, tak kunjung jelas apakah Pak Moer akan datang atau tidak.

Pada tanggal 11 Desember, hanya dua hari menjelang peringatan itu, sang wartawan terpaksa datang lagi ke halaman Istana Merdeka atas perintah kantor. Di sana tidak ada satu wartawan pun atau anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Tiba-tiba orang yang ditunggu muncul, dan Pak Moer kaget melihat ada wartawan. Sang wartawan pun belum bisa berkata- kata apa terhadap "tuan menteri" yang mendadak muncul itu

"Oh, ya kapan," kata Moerdiono ketika dia sadar bahwa dia mempunyai "utang janji". Ketika diingatkan bahwa ANTARA akan berulang tahun dua hari lagi, ia lalu berkata singkat sekali: "Ya, saya akan datang". Akhirnya, ANTARA terburu-buru menyiapkan banyak hal, termasuk undangan bagi para tamu akan jadwal kehadiran Mensesneg. Akhirnya, Moerdiono menepati janjinya.

Kemudian, satu hari Moerdiono diundang oleh para seniman untuk berceramah di Kota Bukittingi, Sumatera Barat. Pada acara itu juga diundang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Wardiman Djojonegoro.

Oleh karena tahu bahwa Moerdiono menggunakan pesawat khusus, maka Wardiman juga ingin ikut dalam pesawat itu. Namun, Pak Moer entah kenapa tidak mau mengajak sang Mendikbud.

Akhirnya Moerdiono hanya membawa seorang sekretaris dan beberapa wartawan yang biasa meliput di Sekneg.

Apa ada kelebihan lain situasi dahulu dengan sekarang di lingkungan para menteri? Sekarang rasanya tidak ada menteri yang tidak memiliki pengawal, dan selalu membawa ajudan kemana-mana demi "keamanan" mereka.

Tapi, Moerdiono yang merupakan seorang jenderal, selama ada di Jakarta tidak pernah membawa satu ajudan atau sekretaris pun, apalagi pengawal. Dia hanya ditemani supir setianya yang bernama Awaluddin. Padahal, dulu pun banyak orang tidak senang atau bermusuhan dengan Presiden Soeharto dan para menterinya.

Pada Jumat (7/10) Moerdiono menghembuskan nafas terakhirnya di salah satu rumah sakit Singapura, setelah cukup lama menderita komplikasi penyakit. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta,pada Sabtu, diiringi oleh banyak sanak keluarga, kerabat dan anggota masyarakat yang memiliki banyak kenangan mengenai dirinya.

1 comments: